Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana kita bisa mengukur "ukuran" sebuah matriks? Sama seperti vektor yang memiliki panjang, matriks juga memerlukan konsep "ukuran" yang disebut norma matriks. Yang menarik adalah, kita dapat membangun norma matriks langsung dari norma vektor yang sudah kita kenal.
Jika kita memiliki norma vektor pada ruang Rn, maka kita dapat mendefinisikan norma matriks yang sesuai pada Rn×n melalui formula:
∥A∥=x∈Rnsup∥x∥∥Ax∥=x∈Rn:∥x∥=1max∥Ax∥
Norma yang dihasilkan dengan cara ini disebut norma matriks alami yang diinduksi oleh norma vektor. Norma ini memiliki dua sifat penting yang membuatnya sangat berguna dalam analisis numerik.
Sifat Kompatibilitas: Untuk semua matriks A∈Rn×n dan vektor x∈Rn, berlaku:
∥Ax∥≤∥A∥⋅∥x∥
Sifat Multiplikatif: Untuk semua matriks A,B∈Rn×n, berlaku:
∥AB∥≤∥A∥⋅∥B∥
Kedua sifat ini sangat fundamental karena memastikan bahwa norma matriks berperilaku konsisten dengan operasi perkalian matriks dan vektor.
Mengapa kita perlu memahami kondisi matriks? Jawabannya terletak pada masalah stabilitas numerik. Ketika kita menyelesaikan sistem persamaan linear Ax=b menggunakan komputer, selalu ada kemungkinan kesalahan kecil dalam data atau perhitungan.
Bayangkan kita memiliki sistem yang sedikit terganggu. Alih-alih menyelesaikan Ax=b, kita sebenarnya menyelesaikan sistem yang terganggu A~x~=b~ dimana A~=A+δA dan b~=b+δb.
Pertanyaan krusialnya adalah seberapa besar pengaruh gangguan kecil δA dan δb terhadap solusi x~?
Jika matriks A adalah reguler dan gangguan cukup kecil sehingga ∥δA∥<∥A−1∥1, maka matriks yang terganggu A~=A+δA juga reguler.
Untuk kesalahan relatif dalam solusi, kita memperoleh estimasi:
Sekarang kita sampai pada konsep sentral dalam analisis numerik, yaitu bilangan kondisi. Untuk matriks yang dapat dibalik A∈Rn×n, bilangan kondisi didefinisikan sebagai berikut.
cond(A)=∥A∥⋅∥A−1∥
Bilangan kondisi mengukur seberapa "buruk" suatu matriks dalam konteks stabilitas numerik. Semakin besar bilangan kondisi, semakin sensitif sistem terhadap gangguan kecil.