Penjumlahan suku-suku suatu barisan tak hingga membentuk deret tak hingga. Perilakunya ditentukan melalui jumlah parsial: jika jumlah parsial mendekati bilangan berhingga, deretnya konvergen. Jika tidak, deretnya .
Sebuah deret disebut konvergen jika jumlah parsialnya mendekati nilai berhingga. Dalam model ideal bola memantul, misalnya, lintasan yang makin pendek dapat memiliki panjang total yang berhingga.
Jika jumlah parsial Sn menuju L, jumlah parsial sebelumnya juga menuju nilai yang sama. Selisih kedua jumlah parsial adalah suku yang baru ditambahkan:
an=Sn−Sn−1⟶L−L=0
Jadi, suku yang menuju nol adalah syarat perlu, bukan jaminan konvergensi. Kita masih harus memeriksa jumlah parsialnya.
Deret geometri konvergen jika nilai mutlak rasionya kurang dari 1. Ambil deret 1+21+41+81+… yang rasionya 21. Jumlah parsialnya terus mendekati 2, dan rumus limitnya memastikan nilai itu secara langsung.
S∞=1−ra=1−211=211=2
Jika suku pertama tidak nol dan nilai mutlak rasio sekurang-kurangnya satu, deret geometri tidak memiliki jumlah berhingga. Deret dengan semua suku nol tetap konvergen menuju nol.
Bandingkan suku-suku dengan jumlah parsialnya. Pada tiga contoh pertama, suku-suku bahkan tidak menuju nol. Deret harmonik memerlukan alasan tambahan karena sukunya justru menuju nol.
Deret
Jumlah parsial awal
Perilaku
1+2+3+4+⋯
1,3,6,10
Naik tanpa batas
2+4+8+16+⋯
2,6,14,30
1−2+4−8+⋯
1,−1,3,−5
Pada deret harmonik, kelompokkan suku setelah 1+1/2 menjadi kelompok berisi dua, empat, delapan, dan seterusnya. Setiap kelompok menyumbang sekurang-kurangnya setengah:
Ada tak hingga banyak kelompok dengan sumbangan sedikitnya 1/2. Karena itu, jumlah parsial melewati batas berapa pun, meskipun 1/n→0. Inilah contoh mengapa suku menuju nol belum cukup.
Setiap barisan yang monoton dan terbatas pasti konvergen. Kriteria ini berguna ketika limit sulit dibaca langsung dari suatu rumus.
Jumlah parsial dari deret dengan suku-suku tak negatif tidak pernah menurun. Jika jumlah parsial tersebut juga memiliki batas atas, deretnya konvergen.
Misalnya, untuk 1+1/2+1/4+⋯, kita memperoleh Sn=2−21−n<2. Setiap suku yang ditambahkan positif, sehingga jumlah parsial naik. Angka dua adalah batas atas untuk semua jumlah parsial, jadi deret tersebut konvergen.
Tentukan apakah setiap deret berikut konvergen atau divergen. Periksa dulu perilaku sukunya, karena suku yang tidak menuju nol sudah cukup menjawab pertanyaannya. Tulis kesimpulanmu untuk tiap deret sebelum membaca pembahasan.
Deret pertama merupakan deret geometri dengan ∣r∣=1/4<1, sehingga deretnya konvergen:
1−1/43=3/43=3⋅34=4
Suku-suku deret kedua tidak mendekati nol, sehingga deretnya divergen.
Jumlah parsial deret ketiga bergantian di antara dua nilai. Osilasi ini membuatnya gagal mendekati satu limit.
Untuk deret kedua, Sn=n sehingga jumlah parsial tidak terbatas. Untuk deret ketiga, S1=1, S2=0, S3=1, dan S4=0. Dua barisan bagiannya memiliki limit berbeda, jadi seluruh barisan jumlah parsial tidak memiliki satu limit.