Perkalian matriks adalah operasi fundamental dalam aljabar linear. Berbeda dengan penjumlahan atau pengurangan matriks yang elemennya langsung dioperasikan, perkalian matriks memiliki aturan tersendiri.
Elemen cij pada matriks C (yaitu elemen pada baris ke-i dan kolom ke-j) dihitung dengan mengalikan setiap elemen pada baris ke-i dari matriks A dengan elemen yang bersesuaian pada kolom ke-j dari matriks B, kemudian menjumlahkan semua hasil perkalian tersebut.
Secara matematis, jika A=[aik] dan B=[bkj], maka elemen cij dari matriks C=AB adalah:
cij=k=1∑naikbkj=ai1b1j+ai2b2j+⋯+ainbnj
Notasi ∑ (sigma) berarti penjumlahan.
Dalam rumus di atas, kita menjumlahkan hasil perkalian aikbkj untuk semua nilai k dari 1 sampai n.
Mari kita lihat contoh sederhana untuk memahami prosesnya.
Misalkan kita punya matriks P=[p11p21p12p22] dan Q=[q11q21q12q22].
Matriks P berordo 2×2 dan matriks Q juga berordo 2×2. Jumlah kolom P (yaitu 2) sama dengan jumlah baris Q (yaitu 2), jadi kita bisa mengalikannya. Hasilnya, R=PQ, akan berordo 2×2.
R=[r11r21r12r22]
Elemen-elemen matriks R dihitung sebagai berikut:
r11=(baris 1 dari P)⋅(kolom 1 dari Q)=p11q11+p12q21
r12=(baris 1 dari P)⋅(kolom 2 dari Q)=p11q12+p12q22
r21=(baris 2 dari P)⋅(kolom 1 dari Q)=p21q11+p22q21
r22=(baris 2 dari P)⋅(kolom 2 dari Q)=p21q12+p22q22
Perkalian matriks memiliki beberapa sifat penting:
Umumnya Tidak Komutatif:
Artinya, AB=BA. Kita sudah melihat contoh di atas di mana AB terdefinisi tetapi BA tidak. Bahkan jika keduanya terdefinisi, hasilnya belum tentu sama.
Asosiatif:
Jika perkalian matriks A,B, dan C terdefinisi, maka berlaku (AB)C=A(BC). Artinya, urutan pengelompokan perkalian tidak mengubah hasil akhir.
Distributif:
Perkalian matriks bersifat distributif terhadap penjumlahan atau pengurangan matriks:
A(B+C)=AB+AC
(A+B)C=AC+BC
Perkalian dengan Matriks Identitas (I):
Jika A adalah matriks persegi berordo n×n dan I adalah matriks identitas berordo n×n, maka berlaku:
Perkalian dengan Skalar (k):
Jika k adalah sebuah skalar (bilangan riil), maka:
Perkalian matriks sangat berguna dalam berbagai bidang, salah satunya untuk mengelola data dan menghitung nilai agregat.
Bayangkan sebuah industri rumahan memproduksi tiga jenis makanan: keripik tempe, keripik pisang, dan keripik kentang.
Makanan tersebut dipasarkan ke tiga tempat: Tempat A, Tempat B, dan Tempat C.
Banyaknya keripik (dalam toples) yang terjual di setiap tempat disajikan dalam matriks P. Kolom-kolom pada matriks P berturut-turut menunjukkan Tempat A, Tempat B, dan Tempat C, sedangkan baris-barisnya berturut-turut menunjukkan keripik tempe, keripik pisang, dan keripik kentang.
Untuk menentukan total pendapatan dari setiap jenis keripik di semua tempat, kita bisa mengalikan matriks P dengan matriks Q.
Namun, perhatikan ordo matriks. Matriks P berordo 3×3 dan matriks Q berordo 3×1. Jumlah kolom P (3) sama dengan jumlah baris Q (3), sehingga PQ dapat dihitung dan akan menghasilkan matriks R berordo 3×1.
Matriks R=PQ akan menunjukkan total pendapatan untuk setiap jenis keripik.
Dari matriks R, kita bisa melihat bahwa total pendapatan dari penjualan keripik tempe adalah Rp1.080.000, keripik pisang Rp1.100.000, dan keripik kentang Rp1.125.000.
Jika pertanyaannya adalah "tentukan matriks pendapatan untuk setiap tempat", maka kita perlu mengatur matriks harga Q secara berbeda atau melakukan perkalian dengan transpos dari P.
Misalkan kita ingin mencari total pendapatan di Tempat A, Tempat B, dan Tempat C. Kita bisa menggunakan matriks harga sebagai matriks baris QT=[20.00015.00030.000] dan mengalikannya dengan matriks P: S=QTP.
Matriks QT berordo 1×3 dan P berordo 3×3. Hasilnya S akan berordo 1×3.